MERANCANG PESTA PERUBAHAN
Oleh : Denni Meilizon Nst *
Oleh : Denni Meilizon Nst *
‘True Leaders inspire people to do great things and when the work is done, their people proudly say, “We did this Our selves”.
(Lao-Tzu)
Seperti kebanyakan pesta, sebagian besar manusia umumnya lupa bahwa inti dari sebuah pesta bukanlah bentuk atau acaranya, melainkan pesan sebenarnya. Sesuatu yang mau di capai itu tentu harus di pahami semua orang.
Supaya berhasil dalam menggerakkan perasaan, sangat mutlak dibutuhkan kesamaan visi tentang standar yang harus dicapai. Standar itu dapat berupa sasaran, nilai-nilai ataupun prinsip-prinsip.
Kita tidak bisa mengharapkan hasil yang optimal dari sebuah Team yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai standar yang berbeda-beda. Kalau didiamkan mereka bukan cuma akan sekedar bekerja, melainkan juga menghambat dan saling berhadapan satu sama lain. Dengan mengumumkan standar yang jelas dan dimengerti semua orang, dan dengan mengaitkan Prestasi dengan standar itu, para pemimpin menciptakan sebuah patokan untuk berprestasi.
Syaratnya, standar itu harus merangsang, menimbulkan aspirasi, dorongan-dorongan untuk pencapaian dan merupakan sebuah standar yang menuju pada kesempurnaan (Standards of excellence).
Hal inilah yang nampaknya belum dipahami oleh sebagian calon pemimpin yang saat ini (mendekati PEMILU Tahun 2009 dan 2010) berani mengusung-mengusung jargon dan slogan PERUBAHAN.
Perubahan bukan hanya sekedar kata, tapi mesti juga di ikuti oleh Tindakan. Layak disimak perkataan Andrie Wongso (Motivator Kesuksesan) bahwa “Hidup adalah aksi dan Tindakan adalah Kekuatan”.
Sebuah Pesta Perubahan akan berjalan menyenangkan kalau pemimpin memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya dan para pengikutnya mau dan mampu menggerakkan seluruh kekuatan. Kita semua tentu mempunyai sebongkah mimpi, Planning, atau pun segudang ide-ide cemerlang yang tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya Aksi.
Orang-orang yang mengaku dirinya “hebat” mendapatkan citra orang-orang yang “luar biasa” dan dipuji atas intelegensinya justru tidak bisa menerima atas ketidakmampuan dan kekurangannya.
Saya jadi teringat pada sebuah cerita yang pernah saya posting di Blog Ikatan Mahasiswa Pasaman Barat Kota Padang ( http://www.imapasbar.wordpress.com/ ) tentang seorang petani di Toraja, Sulawesi yang telah berbuat sesuatu yang membuat Perubahan dalam arti sebenarnya bagi masyarakat di desanya, berawal dari begitu sulitnya mendapatkan air yang bersih dan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka serta dapat mengairi sawah.
Dengan berbekal peralatan seadanya, dia berinisiatif membuat saluran air dengan cara membelah bukit yang menghalangi air dapat dijangkau dengan mudah oleh masyarakat disana, satu-satunya sumber air hanyalah di balik bukit tersebut.
Buah ketekunannya yang luar biasa, akhirnya masyarakat yang sebelumnya pesimis dan mencemoohnya ikut secara bersama-sama “menggempur” bukit tersebut dan membebaskan desa mereka dari krisis air. Hasilnya adalah tercukupinya air untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan juga sawah-sawah dapat diairi. Apa kata sang Petani tentang hal ini ketika di wawancarai oleh wartawan salah satu surat kabar ? ah, saya bukanlah siapa-siapa, saya hanya petani yang mencoba mengairi sawah saya dengan lebih baik dan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus mendaki bukit itu. Sederhana sekali alasannya.
Seperti kata Soetrisno Bachir dalam setiap iklan politiknya, “Hidup Adalah Perbuatan”, maka dalam konteks kekinian untuk menghadapi pesta demokrasi yang akan datang dapat diberikan pesan bagi para calon pemimpin, “ Semoga Hidup bukanlah sebuah Kemunafikan”.
Pesta Perubahan mestinya dirancang dengan menempatkan hati sendiri pada standar kesempurnaan itu. Dari situlah kita memulainya. Manajemen Perubahan sangat dibutuhkan agar perubahan yang dicanangkan tidak berubah menjadi keterpurukan – keterpurukan dan berujung kegagalan. Kita harus melibatkan banyak pihak untuk melihat, bergerak dan yang bergerak belum tentu mampu menyelesaikannya. Hanya mereka yang mampu melakukan adaptasi dengan perubahanlah yang akan mampu bertahan melewati siklus kehidupan ini.
Terakhir, semoga jargon dan slogan yang saat ini diusung oleh para calon pemimpin bukanlah hanya menunjukkan sebuah kemunafikan yang berawal dari ketidak pahaman dan ketidak tahuan. Semoga Perubahan yang akan dilaksanakan sudah termotivasi tujuan yang Visioner dan terlaksana dengan keimanan kepada Allah SWT.
Sebuah Pesta Perubahan akan berjalan menyenangkan kalau pemimpin memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya dan para pengikutnya mau dan mampu menggerakkan seluruh kekuatan. Kita semua tentu mempunyai sebongkah mimpi, Planning, atau pun segudang ide-ide cemerlang yang tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya Aksi.
Orang-orang yang mengaku dirinya “hebat” mendapatkan citra orang-orang yang “luar biasa” dan dipuji atas intelegensinya justru tidak bisa menerima atas ketidakmampuan dan kekurangannya.
Saya jadi teringat pada sebuah cerita yang pernah saya posting di Blog Ikatan Mahasiswa Pasaman Barat Kota Padang ( http://www.imapasbar.wordpress.com/ ) tentang seorang petani di Toraja, Sulawesi yang telah berbuat sesuatu yang membuat Perubahan dalam arti sebenarnya bagi masyarakat di desanya, berawal dari begitu sulitnya mendapatkan air yang bersih dan layak untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka serta dapat mengairi sawah.
Dengan berbekal peralatan seadanya, dia berinisiatif membuat saluran air dengan cara membelah bukit yang menghalangi air dapat dijangkau dengan mudah oleh masyarakat disana, satu-satunya sumber air hanyalah di balik bukit tersebut.
Buah ketekunannya yang luar biasa, akhirnya masyarakat yang sebelumnya pesimis dan mencemoohnya ikut secara bersama-sama “menggempur” bukit tersebut dan membebaskan desa mereka dari krisis air. Hasilnya adalah tercukupinya air untuk kebutuhan hidup sehari-hari dan juga sawah-sawah dapat diairi. Apa kata sang Petani tentang hal ini ketika di wawancarai oleh wartawan salah satu surat kabar ? ah, saya bukanlah siapa-siapa, saya hanya petani yang mencoba mengairi sawah saya dengan lebih baik dan mendapatkan air untuk kebutuhan sehari-hari tanpa harus mendaki bukit itu. Sederhana sekali alasannya.
Seperti kata Soetrisno Bachir dalam setiap iklan politiknya, “Hidup Adalah Perbuatan”, maka dalam konteks kekinian untuk menghadapi pesta demokrasi yang akan datang dapat diberikan pesan bagi para calon pemimpin, “ Semoga Hidup bukanlah sebuah Kemunafikan”.
Pesta Perubahan mestinya dirancang dengan menempatkan hati sendiri pada standar kesempurnaan itu. Dari situlah kita memulainya. Manajemen Perubahan sangat dibutuhkan agar perubahan yang dicanangkan tidak berubah menjadi keterpurukan – keterpurukan dan berujung kegagalan. Kita harus melibatkan banyak pihak untuk melihat, bergerak dan yang bergerak belum tentu mampu menyelesaikannya. Hanya mereka yang mampu melakukan adaptasi dengan perubahanlah yang akan mampu bertahan melewati siklus kehidupan ini.
Terakhir, semoga jargon dan slogan yang saat ini diusung oleh para calon pemimpin bukanlah hanya menunjukkan sebuah kemunafikan yang berawal dari ketidak pahaman dan ketidak tahuan. Semoga Perubahan yang akan dilaksanakan sudah termotivasi tujuan yang Visioner dan terlaksana dengan keimanan kepada Allah SWT.
disarikan terutama dari Buku CHANGE : Reinald Kasali
Bukittinggi, 14 Desember 2008
Bukittinggi, 14 Desember 2008


Tidak ada komentar:
Posting Komentar